Resume Materi Islam Dan Globalisasi

 

ISLAM DAN GLOBALISASI

Dunia kini bukan lagi terdiri dari batas-batas fisik yang kaku. Melalui teknologi informasi, kita semua terhubung dalam satu desa global. Fenomena inilah yang kita sebut Globalisasi—arus komunikasi, informasi, IPTEKS, dan budaya yang saling memengaruhi secara bebas di seluruh dunia.

Bagi umat Islam, globalisasi seringkali menjadi tantangan yang memecah belah. Materi Islam dan Globalisasi memaparkan dua sikap ekstrem yang muncul dalam menghadapi arus perubahan ini:


1. Dua Kutub Sikap Umat: Menolak vs. Menerima Mutlak

Ketika dihadapkan pada derasnya arus globalisasi, umat Islam terbagi menjadi dua kelompok besar, yang masing-masing memiliki implikasi yang berbeda:

A. Kelompok Penolak Keras (Sikap Konservatif)

Kelompok ini memandang globalisasi, terutama yang datang dari Barat, sebagai ancaman dan konspirasi tersistem untuk menghancurkan Islam dan identitasnya.

  • Sikap: Menentang keras perubahan, baik pemikiran maupun IPTEKS.

  • Tindakan: Mempertahankan tradisi dan ajaran yang sudah mentradisi (taklid) dan menganggap semua yang baru adalah bid’ah.

  • Implikasi: Cenderung menjadi kolot, terbelakang, dan tertinggal dalam inovasi dan kemajuan peradaban.

B. Kelompok Penerima Mutlak (Sikap Liberal)

Kelompok ini sebaliknya, menganggap segala sesuatu yang datang dari negara maju (Barat/Timur) sebagai jaminan kemajuan masa depan.

  • Sikap: Menerima setiap perubahan tanpa adanya seleksi, pemilihan, atau penyesuaian.

  • Tindakan: Mengecam penolak perubahan sebagai kaum terbelakang, dan cenderung mengadopsi budaya asing secara mentah-mentah (sekularisme, hedonisme, dll.).

  • Implikasi: Kehilangan identitas Islam (distinguishing character) dan terlepas dari fondasi Akidah serta Syariah.

2. Solusi Tengah: Pandangan Fleksibel dan Selektif

Kedua pandangan ekstrem di atas seringkali saling kontradiksi dan menyebabkan perpecahan. Islam menawarkan sebuah sikap yang fleksibel dan moderat, sejalan dengan prinsip Al-Wasathiyyah (keseimbangan) yang merupakan salah satu ciri khas ajaran Islam.

Sikap yang benar terhadap globalisasi adalah Pandangan Tengah, di mana umat Islam:

  1. Tidak Menolak Mutlak: Mengakui kenyataan bahwa globalisasi adalah takdir alam (sunnatullah) yang tidak bisa dihindari, dan ia membawa banyak manfaat, terutama dalam kemajuan IPTEKS.

  2. Tidak Menerima Mutlak: Memiliki kendali penuh terhadap setiap perubahan yang masuk, dengan menjadikannya sebagai objek yang harus diseleksi dan diuji kesesuaiannya.

Filter Utama: Akidah dan Syariah

Segala sesuatu yang datang dari globalisasi harus melalui filter utama, yaitu Akidah dan Syariah:

  • Terima: Segala sesuatu yang mendukung terwujudnya tujuan Syariah (Maqashid asy-Syariah)—seperti IPTEKS yang bermanfaat, ilmu pengetahuan yang memajukan, atau komunikasi yang mempersatukan.

  • Tolak: Segala sesuatu yang berpotensi merusak Akidah, Syariah, dan Akhlak (misalnya gaya hidup hedonis, sekuler, atau praktik ekonomi ribawi).

3. Globalisasi sebagai Peluang Dakwah

Bagi Muslim yang cerdas, globalisasi bukan sekadar ancaman, melainkan peluang emas untuk dakwah global.

  • Penyebaran Informasi: Teknologi memungkinkan penyebaran ajaran Islam, ilmu-ilmu keislaman, dan konsep peradaban Islam ke seluruh pelosok dunia dengan kecepatan tinggi.

  • Rekonstruksi IPTEKS: Globalisasi mendorong umat Islam untuk bangkit dalam bidang IPTEKS, membuktikan bahwa kita mampu menjadi kiblat peradaban seperti pada Golden Age, namun dengan basic ideology yang Islami.

Penutup: Menjadi Subjek, Bukan Objek

Umat Islam tidak boleh menjadi objek pasif yang hanya menerima efek dari globalisasi. Kita harus menjadi subjek aktif yang mampu berinteraksi, menyeleksi, dan memengaruhi arus globalisasi dengan nilai-nilai Islam yang Rahmatan lil’alamin (universal).

Dengan memegang teguh identitas keislaman, memanfaatkan kemajuan IPTEKS, dan bersikap fleksibel namun selektif, kita dapat mengarungi badai globalisasi dan mewujudkan Islam sebagai peradaban yang unggul dan solutif bagi dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Autobiografi

Resume Materi Islam Dan Wawasan Keindonesiaan